Blog Future Leader Summit

Peran Pemuda dalam Mengentaskan Kemiskinan

Kemiskinan merupakan permasalahan yang pasti bagi sebagian negara berkembang termasuk Indonesia. Kemiskinan melemahkan banyak sistem, menyebabkan banyak permasalahan lainnya yang jauh lebih kompleks. Kesadaran bahwa kekuatan terbesar negara ini adalah pemudanya, bahwa maju atau mundurnya bangsa ini adalah karena perbuatan pemudanya, membuat saya optimis bahwa Indonesia bisa berkembang jauh lebih baik daripada hari ini. Tetapi juga timbul kekhawatiran apakah pemuda Indonesia sudah tersiapkan dengan baik untuk menghadapi tantangan di masa depan?

Saya pernah terjun ke masyarakat desa yang merupakan desa binaan BEM Unsoed 2015, yaitu desa Banteran, selama saya mengikuti organisasi ini. Keadaan desa ini begitu miris, terutama pada bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan dinamika sosial. Saya mendapati kenyataan bahwa desa mitra ini merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan termiskin di Banyumas, yaitu Kecamatan Sumbang, padahal lokasi desa begitu dekat yang jarak termpuhnya hanya 15 menit dari pusat pendidikan Unsoed. Hal ini sungguh mengetuk hati nurani.

Masyarakat desa yang dominan berpendidikan rendah menjadi salah satu akar rumput permasalahan yang harus segera di selesaikan, karena dengan pendidikan mata rantai kemiskinan dan masalah-masalah negara yang diakibatkan oleh kemiskinan dapat terputus. Masalah yang lain adalah kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan terutama ekologis persawahaan. Petani di Desa Banteran tidak mendapatkan penyuluhan dan pendidikan pertanian yang baik sehingga kebiasaan mereka menggarap sawah dengan penggunaan pupuk kimia serta pestisida kimia tanpa menghitung takaran yang tepat dapat menyebabkan rusaknya lingkungan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Selain itu, berkaitan langsung dengan nyawa para petani, di dalam tubuh mereka telah terjadi akumulasi racun terus-menerus dan hasil panen raya pun tidak selalu stabil dari tahun ke tahun karena tanah sawah yang mereka garap mengalami kerusakan yang cukup parah. Hasil dari pendekatan yang dilakukan melalui kelompok tani, ketua paguyuban desa serta jajaran pengurus Desa Banteran, ternyata masalah-masalah ini sangat berkaitan dengan pergeseran kultur yang terjadi. Era globalisasi tidak hanya berdampak pada masyarakat kota tetapi juga berdampak nyata sampai masyarakat desa. Sampainya bahan kimia ke desa merupakan salah satu cara instan mendapatkan hasil panen tanpa harus menunggu waktu yang lama. Kepraktisan yang ditawarkan era globalisasi inilah yang sudah mengakar di masyarakat Desa Banteran dan tidak menutup kemungkinan juga pada desa-desa lain yang ada di Indonesia.

Masalah lainnya adalah dinamika sosial masyarakat desa. Pergaulan remaja desa sangat memprihatinkan. Di desa mitra yang saya terjuni, banyak remaja perempuan yang hamil diluar nikah. Penyimpangan pergaulan yang biasa kita lihat terjadi pada masyarakat perkotaan ternyata juga terjadi pada masyarakat desa. Hal ini telah menggeser nilai-nilai normatif yang dianut oleh masyarakat desa. Setelah ditelisik lebih jauh mengapa hal ini bisa terjadi, yaitu dikarenakan pendidikan reproduksi dan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi yang tidak memadai. Selain itu, kurangnya sanitasi yang ada di desa menyebabkan banyaknya warga desa yang buang air di hutan-hutan atau langsung di perairan. Pencemaran perairan yang terjadi akibat kotoran manusia mengakibatkan penyakit endemik di desa. Terlalu banyak permasalahan di desa yang sesungguhnya mengharapkan kita, sebagai pemuda, seorang mahasiswa yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi untuk dapat berbagi ilmu dengan mereka, mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.

Komoditi pangan yang dihasilkan oleh masyakat pedesaan sangat mempengaruhi kekuatan dan stabilitas pangan nasional. Oleh karena itu, ketika ada masalah di pedesaan hal tersebut juga berarti merupakan masalah nasional. Masyarakat pedesaan yang masih mendominasi Indonesia dapat dijadikan kesempatan besar dan kekuatan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Namun, hal yang paling utama untuk melakukan perubahan adalah dengan memulai perubahan itu sendiri pada diri kita. Saya pun bercermin bagaimana saya dapat merubah orang lain sementara diri saya belum berubah.

Peran pemuda untuk membuat pendidikan karakter lebih optimal haruslah terlebih dahulu dimulai dari diri sendiri. Memperkaya dirinya dengan ilmu, bergerak maju ke arah kualitas hidup yang lebih baik dan bermartabat, menetapkan prinsip-prinsip dasar sebagai nilai yang ideal dalam menetapkan cita-cita, memilih strategi serta mampu menggali dan membangkitkan apa yang terbaik yang ada didalam dirinya, barulah dia dapat memberikan dampak bagi yang lain. Prinsip dasar tersebut akan menumbuhkan dimensi moral dan spiritual pada pelaksaan tugas dan kewajiban dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Para pemuda harus memiliki rasa tanggung jawab sosial untuk membangun bangsa melalui bidang keilmuan yang dimiliki.

Melihat kondisi bonus demografi Indonesia, timbul permasalahan dimana kebanyakan pemuda di Indonesia tidak tersiapkan, terlihat masih rendahnya kualitas hidup pemuda, rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki dan kurangnya keterampilan pemuda dalam menghadapi MEA yang tidak lama lagi akan terealisasikan. Sekarang, pemuda masih dianggap remeh dalam menentukan suatu kebijakan oleh kalangan tertentu, masih dianggap belum matang karena banyaknya masalah kepemudaan yang timbul sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemuda. Oleh karena itu, kita sebagai pemuda memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar untuk memiliki keinginan kuat membangun bangsa melalui aksi-aksi nyata, menuangkan gagasan dan ide-ide kreatif sebagai solusi pemecahan masalah bangsa yang ada secara arif dan strategis agar menjadi kaum terdidik yang memiliki jiwa pejuang, berorientasi ke masa depan dan mau bergerak bersama-sama untuk membangun bangsa dengan karya nyata.

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

 

Kontributor

Rima Ramadhania

Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman

Atikah Rahmawati

Add comment

Paling Populer

Kategori Artikel