Blog Future Leader Summit

My Awesome Life Started From UFLL 2016

Saya adalah orang yang selalu menyalahkan dan merendahkan diri sendiri. Merasa bahwa saya adalah bocah nakal, bodoh didalam lingkungan saya. Seseorang mediocre dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat rendah. Saya sampai merasa bahwa saya tidak pernah punya teman baik. Seperti kehilangan arah, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan di masa depan, apa yang harus saya perbuat untuk memperbaiki diri saya. Saya merasa sangat frustasi karena terlalu fokus kepada hal-hal negatif yang ada pada diri saya.

Saya melabeli diri saya sebagai teman yang sangat buruk, saya tidak pantas mempunyai teman baik. Bahkan tidak jarang pikiran-pikiran negatif muncul di kepala seperti, “lu ngga pantes punya teman baik”, “semua orang ngga mau berteman sama orang kayak lu”. Saya merasa sangat frustasi, stress dan ini adalah salah satu penderitaan terbesar dalam hidupku. Bahkan sering saya merasa iri dengan kondisi teman-teman yang bisa saling ngobrol asik.

Diperparah lagi dengan kondisi bahwa saya adalah orang dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah, dengan diterimanya saya sebagai mahasiswa SBM ITB membuat saya sangat minder. Banyak sekali orang-orang dengan prestasi akademik dan nonakademik di kampus, sedangkan saya adalah orang yang hanya beruntung bisa diterima di kampus Ganesha. Karena asumsi-asumsi negatif ini saya selalu meremehkan diri saya sendiri, membutakan mata dari potensi dan kelebihan yang saya punya dan  dampaknya adalah proses perkembangan diri saya dibangku kuliah sangatlah lambat.

Sampai akhirnya semua berubah ketika saya menjalani Ucamp Unilever Future Leader. Banyak pembelajaran yang saya dapatkan selama UFLL. Momen yang menurut saya paling berdampak dan merubah diri saya adalah ketika momen ngobrol empat mata dengan Tante Irma. Beliau adalah Head of Leadership Development Unilever. Obrolan dimulai  ketika sedang dalam perjalanan dari Graha Unilever menuju Unilever Learning Centre. Obrolan selama dua jam yang sedikit mengguncang pikiran dan perasaan saya, menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah, “kenapa saya bisa diterima sebagai salah satu peserta UFLL 2016, sedangkan banyak anak yang lebih berprestasi dari segi akademis dan nonakademis yang seharusnya lebih layak untuk menerima hal ini?”.

Jawaban beliau membuat saya sadar walaupun awalnya sangat membingungkan. “Dari creative CV kamu, saya bisa lihat bahwa kamu punya banyak potensi, kamu punya karakter yang sangat kuat. CV kamu bercerita banyak tentang dirimu, itulah kenapa kamu bisa lolos. You have a lot of potentials,” begitulah kira kira ujarnya waktu itu.

Sepintas membuat saya kagum dan sedikit tidak percaya bagaimana seseorang bisa menilai orang lain hanya dari CV sedangkan saya yang menjalani hidup 20 tahun kurang paham dengan diri saya sendiri. Namun dari apa yang beliau sebutkan, beberapa saya sadari bahwa potensi-potensi itu ada pada diri saya. Sampai obrolan itu berlanjut dan sedikit demi sedikit membuka mata dan membuat saya sadar bahwa saya lebih hebat dari yang saya kira.

Sampai akhirnya obrolan tadi ditutup dengan sebuah tantangan dari beliau. “Bagaimana caranya agar semua potensi yang kamu punya, kamu kombinasikan untuk mencapai tujuan hidupmu? Think disruptively!” Begitu jelasnya.

Obrolan itu membuat saya berpikir keras apa yang salah dengan diri saya. Kenapa begitu rendahnya saya menilai diri sendiri.  Namun masih ada satu pertanyaan lagi yang perlu saya tanyakan, satu hal yang cukup mengganggu saya selama ini bahkan hal ini sudah saya rasakan semenjak duduk dibangku SMP. Saya merasa bahwa diri saya susah untuk mencari teman, susah untuk berhubungan dengan orang disekitar, saya menganggap diri saya adalah orang jahat, nakal dan tidak pantas untuk berteman dengan orang disekitar saya.

“Engga kok, kata siapa kamu susah nyari teman, berdasarkan observasi saya seminggu ini kamu gampang dekat dan ngobrol dengan semua orang yang ada di UFLL ini. Jangan-jangan saya tebak kamu tipe orang labeling, kamu melabeli diri kamu sebagi orang yang nakal, slengekan.” Jawaban yang beliau sampaikan membuat saya terkejut, sedikit perasaan tidak percaya namun disisi lain jawaban dia perihal saya melabeli diri saya sebagai anak yang nakal dan slengekan sangat mengena di hati saya.

Akhirnya saya mencoba untuk mengkonfirmasi hal ini ke teman-teman dekat dan jawaban mereka juga sangat mengejutkan, mereka bilang bahwa saya orangnya people-person banget. Gampang dekat dengan orang lain, bisa ngobrol dua arah dan sangat peduli dengan kondisi orang lain serta empati saya. Bahkan beberapa dari mereka salut dengan kemampuan interpersonal saya dan meminta untuk diajarkan bagaimana caranya untuk meningkatkan interpersonal skill dan leadership skill. Skill yang saya rasa tidak punyai. Dan hal inilah membuat saya jadi berpikir dan mencoba untuk merefleksikan diri saya di masa lalu. Saya orang yang bagaimana? Seperti apa?

Pada akhirnya bahwa semua yang terjadi pada diri saya adalah tanggung jawab saya. Saya tidak bisa menyalahkan orang lain bahkan diri saya sendiri. Semua keputusan yang sudah saya ambil tidak boleh saya sesali karena semua yang menjadi takdir saya adalah yang terbaik bagi saya. Allah tidak mungkin menyesatkan saya dengan jalan yang Ia pilihkan. Semua masa lalu saya tidak perlu lagi saya sesali saya harus berdamai dengan diri saya sendiri, saya harus memeluk kekecewaan dan kemarahan saya. Yang perlu saya syukuri adalah Allah telah memberikan begitu banyak potensi, “with great power comes great responsibility”, tugas saya sekarang adalah mengejar apa yang menjadi tujuan hidup saya dan tetap memberikan value bagi orang-orang disekitar saya dengan segala macam potensi yang ada pada diri saya.

Terima kasih Allah, orang tua saya, Unilver dan Tante Irma yang telah berjasa dalam setiap langkah kehidupan saya. Dan untuk Tante Irma you changed my perception of myself and make me better than what i thought! You are the true superhero!

Jadi, jika kalian pernah mempunyai pengalaman yang sama diperbudak dengan asumsi-asumsi negatif , maka tugas kalian adalah membuktikan bahwa asumsi negatif itu adalah salah! And after you challange your assumption unleash your true potentials!

Kontributor:

Adi Purnomo – Institut Teknologi Bandung

Atikah Rahmawati

Add comment

Paling Populer

Kategori Artikel