Blog Future Leader Summit

Millennials Power

“Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya, ini adalah masa kita dan kita adalah orangnya”

Jika melihat sejarah, banyak perubahan yang terjadi digagas oleh peran pemuda. Di Indonesia sendiri kita ketahui bahwa awal persatuan sebagai  bangsa Indonesia adalah sumpah pemuda yang di gagas oleh para pemuda, proklamasi kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 juga merupakan campur tangan dari para pemuda saat itu. Bahkan turunnya rezim orde baru juga di lakukan oleh pemuda. Pemuda mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk membentuk sebuah perubahan baru. Namun setelah memasuki periode reformasi, pemuda – pemuda terlihat mulai kehilangan jati diri dan terlalu sibuk dalam euforia kebebasan tanpa batas, sehingga tidak menyadari bahwa dirinya adalah penggerak perubahan.

Dewasa ini individualisme tengah merajalela ditambah dengan lahirnya smartphone sehingga banyak pemuda asik dengan dunia maya dan mengabaikan sekitarnya. Diantara kita mungkin pernah lebih asik chat dengan teman social media dari pada mengobrol dengan teman sekitar maupun keluarga di rumah. Hal ini berdampak pada kehidupan sosial dimana banyak pemuda menganggap bahwa sukses merupakan kesejahteraan pribadi.

Covey dalam bukunya menjelaskan bahwa manusia melewati tiga tahapan dalam hidupnya yakni ketergantungan, mandiri dan kesalingtergantungan. Tahap pertama yaitu fase bayi ketika kita memasuki tahap ketergantungan dimana kehidupan bergantung pada orang lain baik dari hal kecil hingga hal besar. Tahap kedua adalah fase kemandirian. Kemandirian dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa membutuhkan bantuan orang lain, contohnya seperti mandiri secara fisik, finansial dan lain sebagainya. Tahap ketiga yaitu fase kesalingtergantungan dimana setiap individu saling berinteraksi untuk memperoleh manfaat bagi dirinya dan orang lain. Namun realitanya banyak orang hanya mencapai tahap pertama dan kedua dalam hidupnya, padahal sejatinya ada tahapan lain yakni kesalingtergantungan dimana manusia bekerja sama satu sama lain untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Masa lalu biarlah menjadi sejarah dan pelajaran untuk kita semua, sekarang adalah saatnya kita sebagai pemuda untuk bergerak, menjadi tugas kita saat ini untuk menciptakan sebuah perubahan. Peta kepemimpinan dunia telah berubah dan beralih pada pola kekuatan baru yang digerakkan oleh generasi millennials. Generasi millennials adalah generasi yang lahir di pertengahan tahun 1990 hingga awal tahun 2000-an yang memiliki kriteria: Generasi Praktis, Generasi Ekspresif dan Generasi Spesialis. Jika pemuda zaman dulu memiliki power untuk mengubah bangsa ini maka generasi millenials pasti mampu melakukan lebih dari generasi sebelumnya, yaitu dengan mengubah dunia. Namun saat ini banyak pemuda Indonesia yang kurang percaya diri untuk melakukan suatu perubahan, dengan dalih keterbatasan, kurang modal hingga kurang pintar. Stop! Sekarang waktunya untuk menyingkirkan pemikiran itu. Kekurangan bukan menjadi penghalang, contohnya seperti salah satu perusahaan taxi terbesar dunia tidak memiliki taxi (Uber), perusahaan media terbesar dunia tidak menciptakan konten (Facebook) hingga perusahaan property terbesar dunia tidak memiliki property (Air bnb). So jangan ragu untuk bertindak, jangan ragu untuk membuat perubahan. Berkreasilah dengan apa yang bisa kamu berikan untuk Indonesia baik itu hanya sekedar ide ataupun pemikiran. Sistem pendidikan kurang baik? maka tugas kita untuk memperbaiki, destinasi pariwisata masih kurang? tugas kita yang membenahi dan mengembangkannya. Intinya adalah berjuanglah dari bawah, sudah saatnya pemuda bergerak untuk menciptakan perubahan. Jangan menunggu perubahan itu terjadi dan jangan hanya menjadi viewers sebuah perubahan tapi jadilah bagian dari perubahan itu sendiri.

Kontributor:

Asep Safaat – Universitas Padjajaran

 

Ma'ariq Badrutamam S.

Add comment

Kategori Artikel