Blog Future Leader Summit

Mengajar dan Diajar: Memandang Keadaan secara Proaktif

Di dunia yang serba cepat dan terbuka saat ini, mudah sekali untuk kita dapat mengakses ribuan inspirasi. Entah sengaja ataupun tidak, sering inspirasi dapat ditemukan di lingkungan rumah, sekolah, kantor dan berbagai media sosial yang tersedia.

Mengesampingkan fakta tersebut, perjalanan saya menemukan inspirasi kali ini sedikit berbeda. Ditemukan di daerah tengah kota yang cukup pesat pembangunannya, menjadikan inspirasi ini sebagai suatu pengalaman yang sangat berharga.

Kala itu, saya mengikuti sebuah program menjadi relawan sehari untuk mengajar di sebuah sekolah. Bukan seperti yang saya atau mungkin kita bayangkan, bukan. Bangungan sekolah tidak sepenuhnya tercipta dari tembok bata dan lantai keramik. Tidak ada kursi dan meja belajar. Sekolah ini adalah sekolah gratis yang diperuntukan untuk anak-anak jalanan ataupun yang kurang mampu.

Hari itu adalah pertama kalinya saya menjajakan kaki disana dan untuk pertama kalinya saya melihat jelas bagaimana kerasnya kehidupan kota. Walaupun masih di bawah umur, acap kali para murid disini harus bekerja dan belajar. Entah berjualan, mengamen, bahkan menjadi hantu di rumah hantu keliling pun mereka sanggupkan, padahal uang yang mereka dapat pun tidak seberapa.

Di tengah keadaan cukup sulit ini, jujur saya heran mereka sangat bahagia saat bercerita tentang perkerjaan mereka. Yap, bahagia. Anda sedang tidak salah membaca. Mereka sangat bahagia. Setahun berlalu, saya saya masih terpikir apa yang membuat mereka tetap tersenyum lebar dalam keadaan tersebut. Saya pun tersadar, pada akhirnya bukan tentang latar belakang dan keadaan yang menentukan kebahagian mereka. Yang menentukan kebahagiaan itu ialah diri mereka sendiri.

Mengutip kalimat Mahatma Gandhi “They cannot take away our self respect if we do not give it to them”, saya rasa ini juga berlaku dalam kebahagiaan. Kita harus berani untuk merubah paradigma kita dan mulai berpikir serta bertindak secara proaktif. Berani bertanggung jawab atas perasaan kita, kebahagiaan kita. Memang, mungkin ada keadaan yang tidak bisa dirubah. Namun, orang-orang yang proaktif fokus pada segala usaha, segala hal, yang bisa mereka perjuangkan. Bukan lagi menjadi orang reaktif yang fokusnya berada dalam penyalahan diri, orang lain, dan lingkungan. Belajar mengganti kalimat “Seandainya saya..” menjadi “Saya akan..”.

Selain itu, saya belajar bahwa menjadi orang yang proaktif dapat membawa dampak bagi orang lain. Mungkin murid-murid di sekolah tersebut tidak pernah ada maksud untuk menginspirasi saya, barangkali mereka bahkan tidak tahu apa itu menjadi inspirator, namun lewat cara pandang mereka, saya diajar untuk lebih proaktif. Dan saya bersyukur di tengah keadaan dimana seharusnya saya mengajar, justru saya lebih banyak diajar.

Sedikit pesan dari saya untuk para pembaca yang masih bisa mengenyam indahnya bersekolah, mari kita sama-sama merefleksikan betapa seringnya kita mengeluh dan mulai bersyukur serta mengubah fokus kita untuk terus mengusahakan segala potensi yang kita punya.

Kontributor:

-Yolanda Lisu Sumbung

Ma'ariq Badrutamam S.

Add comment

Paling Populer

Kategori Artikel